Minggu, 18 Mei 2025

JERIT IBU PERTIWI

Ibu Pertiwi merintih sedih menjerit
Hidup melarat demi harkat
Pastikan hidup mencapai akherat
Demi mulia harkat dan martabat

Jangan gadai kan nyawa 
Hanya untuk menggapai harta
Hidup di dunia yang fana
Semu dan hanya fata morgana

Hakekat manusia terjerat
Dalam tipu daya penuh muslihat
Rasa ingin meraih dunia secepat kilat
Jalan kan segala cara penuh jerat

Sadar lah diri dalam jiwa
Raga hanya pakaian sementara
Jangan sampai jiwa menjadi sengsara
Terbelenggu dalam keserakahan dunia

🙏🙏🙏



Gelegar

Hujan rintik-rintik, air jatuh di atas kolam.
Tenang.
Gelegar!.
Tak terduga dalam sekejap saja ketenangan itu berubah menakutkan.
Tanpa sempat berpikir atau bertindak apapun, semua terjadi dalam sekejap mata.
Gusti maha agung, alam semesta berseru.
Gelar alam yang tak dapat di hindari atas segala kelalaian mahluk mulya di atas bumi.
Mahluk mulia di atas bumi, manusia.
Manusia bermetamorfosa dalam harkat dan martabat menjadi hina.
Kesadaran manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mulia telah lalai oleh ke inginan dan atau hawa nafsu.
Tatanan dunia global mengubah sifat-sifat dasar manusia.
Kesadaran manusia pada tanggung jawab nya sebagai manusia telah hilang.
Rasa dan rumasa tidak menjadi pertimbangan dalam mengambil tindakan, perbuatan dan pikiran.
Mengikuti tatanan hidup global, menjadikan manusia hidup tanpa makna.
Sadar dalam kesadaran sebagai mahluk mulia ciptaan Sang Maha.

Kamis, 13 Februari 2025

LARON

Laron dalam tasbih mu, engkau rela mati dalam cahaya.

Cahaya lampu akan membunuhmu, 

Menghancurkan sayapmu,

Engkaupun terjatuh dan mati



Mahluk kecil berjiwa ksatria

Hidup sebagai pejuang bangsa

Rela mati demi keutuhan NKRI

Walau mati  “aku telah berbuat”


Berjuang demi kemakmuran rakyat sejahtera

Walau harus menghadapi gurita raksasa

Akan ku keringkan samudra

Gurita raksasa pasti mati merana


Laron, aku akan hidup abadi

Sampai rakyat negri ini hidup sejahtera dan damai

Agar aku dapat kembali

Ke tempat istirahat nan abadi.


MERDEKA!!.

Senin, 20 Januari 2025

AIR MATA

Raja Perang, Pangeran Perdamaian 
airmatamu  di simpan oleh Hyang Prabu Ciung Wanara


Prabu Ciung Wanara  
Sang Manarah, 
Prabu Suratama  Kusumah
Prabu Jaya Perkosa Mandaleswara Salakabuwana
Kerajaan Galuh (739-783 M).

Sabtu, 24 Februari 2018

CINTAKU MERAH PUTIH

aku terlahir di tanah MERAH PUTIH
INDONESIA lah negriku
aku hidup untuk MERAH PUTIH
yang kukibarkan di dalam jiwaku

MERAH PUTIH bendera negriku
MERAH PUTIH telah membakar hatiku
perjuangan belum selesai
panji MERAH PUTIH patriot bangsaku

kukibarkan MERAH PUTIH di dalam jiwaku
kukibarkan MERAH PUTIH di tanah IBU PERTIWI
udara, laut dan darat MERAH PUTIH berkibarlah
NUSA JAYA INDONESIA ADI JAYA SAKTI

panji-panji mu siap bertarung
demi MERAH PUTIH berkibar di BUMI PERTIWI
cintaku padamu negriku MERAH PUTIH
dengan bangga kusanjung dan kujunjung



cinta abadi

sekeping hati yang penuh rindu
cinta abadi yang telah terpatri
alam semestapu tak sanggup memisahkan
dua hati yang terpatri dalam cinta abadi

hati yang pernah tertaut pada  kekasih hati
tak terpisahkan jarak dan waktu
cinta abadi telah dibawa mati
cinta badi akan kembali

kepada kekasih hati aku berkata
"aku mencintaimu di hidup dan matimu"
maut tak akan memidahkan rasa cinta ini
kasih telah kuerikan cinta abadi untukmu

sekeping hati yang penuh rindu
terpatri dalam jiwa abadi
berkelana di jagat raya
mencari kembali cinta sejati

TERBUANG

aku yang terbuang dalam kehidupan
hidup sendiri tak ada sanak saudara
jauh dari teman dan kenalan
terlunta, tertatih seorang diri

tak seorangpun sudi memandangku
pakaian sederhana  tanpa riasan
terlalu tampak sangat amat sederhana
tak berkeinginan menebar pesona

aku  yang terbuang dalam kehidupan
berkelana mencari yang tidak kucari
mendapatkan yang tidak pernah terbayangkan
teka-teki yang hampir terjawab

aku adalah jati diri yang harus kujawab
tak seorangpun yang menginginkan aku
biarkanlah kulalui hari-hari di bumi nan sepi
menanti yang terjadi di suatu hari nanti